Ekonomi Sayangkan Pernyataan Terkait MLM dan Fintech Haram

Paulrjudge – Industri bisnis yang berkembang telah melahirkan berbagai macam bisnis baru yang menarik perhatian masyarakat. Apalagi di tengah perkembangan teknologi yang juga terus berkembang, menjadikan keduanya saling bahu membahu menciptakan bisnis sendiri. Namun di luar, sebenarnya ada semacam bisnis yang sudah berlangsung lama dan masih menarik perhatian orang. Bisnis tersebut adalah Multi Level Marketing atau biasa disebut MLM. Saat mendengar kata MLM, sebenarnya banyak yang memiliki pandangan negatif terlebih dahulu. Hal ini tentu wajar saja, karena di mata masyarakat ia seperti perusahaan yang menipu para pengikutnya.

Bahkan jika Anda memilih MLM yang andal selama bertahun-tahun, Anda bisa mendapatkan bisnis yang tepat dan mendapatkan keuntungan darinya. Selain itu, gambar MLM yang buruk lebih sering dibuat oleh oknum yang tidak bertanggung jawab dengan menggunakan narasi yang salah di berbagai media. Sehingga lama kelamaan, orang tidak percaya dengan MLM. Meski bisnis ini sudah ada di awal tahun 2000-an, namun masih berkembang hingga saat ini. Meski ada sentimen negatif, MLM masih hidup sampai sekarang. Tapi dari pada sekedar bias, dibawah ini adalah uraian rinci tentang apa itu MLM dan cara kerjanya. Informasi ini dapat menyebabkan Anda berubah pikiran dan bahkan mungkin berniat untuk bekerja di bisnis ini.

Juru bicara Otoritas Jasa Keuangan Sekar Putih Djarot mengatakan, pihaknya saat ini tengah fokus menangani fintech dan ponzi ilegal dengan kedok Multi Level Marketing. Meski demikian, kerap terjadi kesalahpahaman di masyarakat terkait gambaran fintech dan MLM yang sebenarnya. Hal itu, kata dia, menanggapi Komisi Bahtsul Masa`il Waqiiyyah dalam Munas Nadhatul Ulama 2019 yang menyatakan bahwa MLM dan fintech haram. Menurut Sekar, izin MLM itu bukan kewenangan OJK, melainkan Kementerian Perdagangan.

Meski demikian, ia menjelaskan bahwa ada perbedaan antara MLM dengan skema Ponzi / skema piramida / money game berkedok MLM. Pemasaran berjenjang adalah salah satu bentuk strategi pemasaran yang dirancang untuk mempromosikan suatu produk melalui distributor dengan menawarkan tingkat kompensasi yang berbeda. Sedangkan Ponzi adalah skema penipuan yang menyamar sebagai strategi MLM. “Perbedaan antara Ponzi dan skema MLM yang sah adalah tidak ada produk nyata yang dijual dalam skema Ponzi, dan komisi hanya berdasarkan jumlah individu baru (menjadi anggota) dalam skema yang akan diperkenalkan,” ujarnya. kata ‘Humas’ di Jakarta., Jumat 1 Maret 2019.

Sementara untuk fintech, Sekar menyebut ada 99 perusahaan fintech peet-to-peer lending yang resmi terdaftar di OJK per Januari 2019. Beberapa di antaranya bahkan berbasis syariah. Menurut Sekar, setiap peer lender yang terdaftar harus mengikuti ketentuan OJK yang berlaku. Mereka yang tidak mendaftar tergolong fintech ilegal dan harus dihindari oleh masyarakat luas.

“Penanganan skema ponzi dan fintech ilegal menjadi perhatian kita secara umum. Makanya OJK tergabung dalam Satgas Waspada Investasi yang merupakan wadah koordinasi bagi 13 lembaga untuk menangani kegiatan penipuan investasi tersebut,” ujarnya.

Ekonom Center of Reform on Economics (Core), Peter Abdillah, menyayangkan pernyataan pelarangan teknologi keuangan. Pasalnya, uraian fintech yang dijelaskan dalam pernyataan tersebut hanya sebagian kecil dari lembaga keuangan ini. “Pertama, kita termasuk media perlu memahami lebih detail apa yang disampaikan NU. Jangan salah mengartikan,” ujarnya.

Peter mengatakan bahwa fintech sangat luas dan beragam. Namun sayangnya, banyak orang yang mengenal fintech hanya sebatas lembaga peminjaman aplikasi berbunga tinggi, seperti yang diberitakan belakangan ini. “Sebenarnya kalau fintech seperti itu, saya kira boleh dilarang, karena terlihat seperti hiu pinjaman dengan kedok teknologi. Tapi bentuk seperti itu tidak diharapkan untuk tujuan didirikannya fintech,” ujarnya.

Sedangkan fintech jenis lain jumlahnya banyak. Salah satunya yang sering digunakan adalah beberapa jenis fintech payment seperti Gopay. “Sekarang, kami sekarang sangat terbantu oleh Gopay karena praktis, tidak perlu mengeluarkan uang dari dompet kami,” kata Piter. Jenis fintech lain yang umum adalah pinjaman per-peer. Menurut Peter, fintech jenis ini paling baik dicapai jika dibuat dalam bentuk syariah. Jenis fintech ini menghubungkan investor dan pemberi pinjaman.

Kedua belah pihak dapat membuat perjanjian pinjaman, termasuk penggunaan sistem bagi hasil. “Jadi investor bisa memilih siapa yang mau memberi modal, begitu pula sebaliknya. Saat ini banyak fintech yang bahkan sudah menggunakan sistem bagi hasil, sehingga lebih dekat dengan sistem syariah,” kata Piter. Dia mengatakan ada juga semacam pendanaan kerumunan fintech. Dalam fintech ini, pemilik modal membuat usaha patungan untuk membentuk perusahaan tertentu yang bernilai tinggi.

Salah satu MLM yang direkomendasikan untuk Anda adalah Forever Healthy Indonesia